Si Seragam Merah Putih Kekuning-kuningan, SDN 11 Tongkuno Kabupaten Muna


Ada cerita baru di bulan februari ini, ingat dia bukan bulan pertama dalam kalender masehi tapi terkadang menjadi yang keberapapun punya arti tersendiri dalam setiap hati masing-masing , yang pertama tak selamanya berkesan. Ahh aku bercerita terlalu jauh, kembali pada cerita tentang februari ku. Cerita tentang ku, tentang dia, tentang kamu, tentang mereka, lalu akan menjadi cerita tentang kita semua. I hope you feel like that.

Cerita ini berakar pada selasa 13 februari 2018, di sebuah kabupatan yang terletak di Sulawesi Tenggara, Kabupaten Muna. Aku kasih spesifik lagi letaknya di Kecematan Tongkuno. Lebih tepatnya di SDN 11 Tongkuno. Sekolah dasar yang terlatak beberapa kilo dari perkotaan Raha itu merupakan salah satu sekolah yang selalu di kunjungi oleh Gerakan Kendari Mengajar jika sudah berkunjung di pulau yang punya kubah masjid emas itu.

Sekolah dasar yang cat dindingnya tak lagi berwarna merah dan putih melainkan perpaduan antara warna  merah dan putih kuning-kuningan itu mencuri perhatian ku saat motor yang ku naiki memasuki area sekolah. Akan ku jelaskan apa yang kulihat biar kau bisa merasa apa yang kurasa, atau mau ku pinjamkan mata dan hati ku saat tanggal 13 februari itu lebih tepatnya pada sekitaran pukul 11 hingga pukul 2 siang biar kau merasakan apa yang kurasa, kalau iya hubungi saja kontak ku. HaHaHa.

Kami kesana dengan menggunakan 3 motor dan dengan rombongan 6 orang. Tiba di sana kami di sambut oleh salah satu guru yang langsung mengenali wajah driver yang kutumpangi, HaHaHa karena motor yang kutumpangi tiba duluan. Iyah, dia adalah salah satu volunteer GKM yang jejak kakinya sudah pernah terjejak disana. Tak hanya para guru, adik-adik pun satu persatu mulai menatap kami dan perlahan-lahan datang mengikuti kami dari belakang. Adik-adik yang sangat lucu watak dan karakternya karena saat kami yang menghampiri mereka mulai menjauh dan bahkan ada yang lari pergi.

Ada satu kalimat yang sangat ku ingat ketika untuk pertama kali bertemu dengan salah satu guru di SD 11 Tongkuno, Guru yang menyuguhkan senyum terlebarnya ketika menyambut kami, dia berkata "sekarang apa lagi yang GKM bawa disini, kegiatan  apa  yang sekarang ingin GKM lakukan lagi?" Dengan senyum yang masih sama lebarnya, sudah kubilang kata-kata yang ku susun mungkin tak mampu menjelaskan apa yang terlihat, terdengar, dan terasakan pada hari selasa di bulan februari itu. Lalu salah satu kakak volunteer berjawab, "tidak terlalu banyak pak, kami hanya membawa beberapa donasi buku tulis untuk adik-adik disini". Kemudian pak guru itu menjawab dengan ucapan terimah kasih dan dengan senyum yang sama sekali belum pudar dari pertama beliau menyambut kami.
Akan kujelaskan bagaimana adik-adik di desa yang bertanah merah dan dengan rumah yang jarak antara satu dengan rumah yang lain dipisahkan oleh jarak yang lumayan jauh itu. Hari itu harusnya adik-adik berpakain seragam merah putih, dasi, topi, sepatu hitam dan kaos kaki putih yang lengkap karena baru hari kedua pada minggu ini. Tapi apa yang terjadi disana dari jumlah siswa yang kurang lebih seratus lebih itu, mungkin bisa di hitung berapa yang berpakain rapi seperti itu atau bahkan kau akan susah mencari siswa yang bepakain seperti itu. Seragam merah dan putih yang kekuning-kuningan,  dasi dan topi yang entah mereka punya atau tidak, serta sepatu hitam dan kaos kaki putih yang entah kemana.
Mungkin hari itu mereka lupa memakai seragam lengkapnya,  mungkin hari itu mereka lupa untuk terlihat rapi, atau mungkin hari itu para orang tuanya terlalu sibuk dan terburu-buru ke kebun hingga sedikit melupakan mereka atau mungkin hari itu banyak pencuri kaos kaki di salah satu Desa yang terlatak di Kabupaten Muna itu. Ya sudahlah itu kalimat mungkin-mungkin yang bisa kau pinjam dari ku jika banyak pertanyaan yang berhamburan dikepalamu seperti apa yang terjadi pada ku. Dan jangan bertanya kenapa warna cat dan seragamnya perpaduan antara warna merah dan putih kekuning-kuningan karena akan butuh banyak paragraf jika ku jelaskan tentang itu.
Oke waktunya kututup cerita baru ku di bulan februari ini, tapi ingat ini baru part 1 masih ada lagi part-part lanjutan dari perjalan ku dibulan kedua pada kalender masehai pada tahun ini. Sebelum ku tutup mungkin ada kalimat yang harus kau dengan saat kami pamit pulang untuk melanjutkan perjalan kami ke desa lain lagi. Guru dengan senyum lebar itu banyak mengucapkan terimah kasih dan mohon maaf jika pelayanan mereka terhadap kami masih kurang, tapi bukan itu yang ku ingin kalian dengar. Pada kalimat akhir pembicaraannya beliau berkata " tolong agar GKM tidak pernah melupakan SD ini, tolong agar SD ini masih terus menjadi bagian dari GKM". Aah sudahlah kau akan meleleh jika mendengar jawab dari salah satu volunteer untuk menjawab perkataan dari kalimat itu, kau tidak akan sanggup itu terlalu meleleh untuk mu biar aku saja.
Intinya terimah kasih telah menjadi bagian dari cerita ini. Kau yang terlibat secara langsung atau tidak, atau pun yang terlibat  lewat doa-doa yang kau ucap atau mimpi-mimpi yang kau mimpikan, atau pun ingin-ingin yang kau inginkan. Terimah kasih karena kalian telah membuat cerita utuh yang rasanya sulit digambar melalui kata dan ucapan. Aku tunggu kalian terlibat lagi pada perjalan-perjalan dan cerita-cerita yang rasanya lebih sulit digambarkan dan diutarakan lagi. Tepuk wow keren untuk kita semua. Wow keren, wow wow kereeennn...

Si Seragam Merah Putih Kekuning-kuningan, SDN 11 Tongkuno Kabupaten Muna Si Seragam Merah Putih Kekuning-kuningan, SDN 11 Tongkuno Kabupaten Muna Reviewed by sarlina ilina on Februari 19, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.