The Day

Part 2
Pukul 20:00 itu yang terlihat saat mata ini belum sepenuhnya membuka dengan lebar. Jika hari ini adalah hari yang panjang untuk ku, maka kemarin adalah hari yang berkelok-kelok dan berharap diujung jalan sana ada jurang untuk ku.

Bagaimana tidak, orang yang kau percayai bisa melakukan hal yang otak mu sendiri jijik untuk berfikir tentang itu, yang mata mu sendiri enggan untuk melihatnya, yang tangan mu sendiri akan dengan spontan menutup salah satu panca Indra yang punya daun pelingdung itu.

Ku pikir perut tak akan mengamuk jika tak diisii seharian, karena pikiran mengambil semua jatah untuk diisi, ternyata aku salah. Dan sepertinya badan tak butuh arahan lagi dari otak untuk bergerak kesana dan kesini, karena ketika aku tersadar dari lamunan panjang saat bangun tidur, aku sudah berada didapur di depan kompor dan sedang menggoreng telur dadar garam.

Lalu berjalan dengan perlahan dan pelan menuju meja makan, aku duduk seorang diri dengan sebuah piring yang nasinya hampir ditutupi oleh telur dan olesan kecap, I am ready to eat. "MAMa!" Teriak ku tiba-tiba dengan keras, ya_ tak akan ada yang dapat mendengarnya sebab dirumah ini hanya aku seorang diri dan teriakkan itu sekali lagi hanya pada hati kecil ini.

Mama apa bisa aku marah dengan mu? Mama apa bisa aku berkata I hate you so much? Mama apa bisa kisah-kisah kemarin aku kubur dalam tanah atau menitipnya bersama pelangi sebab Jika pelangi hilang ia juga bisa ikut menghilang.

Jangan pulang kerumah Jika aku masih disini, aku tak mau melihat mu dan belum sanggup melihat wajah yang ingin kuhapus dalam memoriku, tapi memoriku belum berkata YES untuk itu. "Kenapa marahnya hanya sama mama?" Itu yang terdengar dalam khayalan ku.

"TIDAK, tidak seperti itu. Aku tidak hanya marah dengan mu. Aku juga marah dengan dia, dia, dia, dia dan mereka semua", "Aku juga marah pada orang bodoh ini mama, orang bodoh yang membiarkan cerita ini punya alur dan berepisode-episode. PUAS" jawab hati kecil ini sekali lagi.

Tanpa sadar pipi ku basa. Ternyata malam ini hujan mendominasi segalanya. Diluar sana ia turun dengan air-air yang cukup banyak membasahi pohon-pohon yang berjejer di samping-samping Jalan raya, membasahi atap-atap rumah yang pasrah akan hal itu, membahasahi para penjual jajanan yang menjual di Taman Raya kota. Disinipun demikian hujan itu turun walaupun dengan air yang tak cukup banyak ia membasahi pipi ini tanpa izinku. Hujan itu turun membanjiri hati yang tak tahu harus berbuat apa.

Harusnya hari itu tak ada, harusnya hari itu ku skip dalam hidup ku. Biarkan saja kisah-kisah itu berjalan dan berkembang tanpa ku tahu. "Aaah.. aku ingin ini dan itu", ini teriakkan pertama yang keluar dari mulut ku sejak kejadian kemarin, ya_ lebih tepatnya sejak kejadian dua hari yang lalu. Kejadian yang dengan egoisnya membuat seisi rumah ini marah terhadap cerita yang terskenariokan, cerita yang buat rumah ini marah dijadikan latar tempat berlangsungnya kisah itu.

Hey, jangan berfikir aku tak sakit karena hari itu. Karena aku tak pernah meminta penjelasan dari kalian semua, karena aku tak menghubungi kalian semua. Hey, saat ini aku telah 22 tahun,apa masih perlu aku menangis merengek di depan kalian lalu berteriak "kenapa ini bisa terjadi?, apa yang kalian lakukan disini?, kenapa kalian sejahat ini terhadap ku?". Apa perlu aku mengaduhkan semua ini pada orang-orang yang bahkan tak tahu seperti apa bentuk senyumku yang sesengguhnya. Ya, cukup.. Aku masih disini, masih pada hari itu, dan masih pada rumah ini.

~Tobe continue ~
The Day The Day Reviewed by sarlina ilina on Desember 01, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.