Sepenggal Kita yang Terlupakan

[Dititik.com] Masih dengan kebiasan-kebiasaan yang sering ku lakukan setiap malamnya, terduduk depan pintu kamar sambil menatap langit malam yang tak berbintang. mungkin aku akan bercerita kepada malam, kupercaya hanya dia yang bisa mengerti dan mampu mendengarkan keluh kesahku, tentang perasaan ragu dan kemarahan hati sekaligus permintaan maaf yang ingin ku utarakan. Ini sederhana hanya beberapa penggal kisah klasik tentang aku dan kamu, Terlebih kepada kamu yang enggan memahami.
Jangan karena orangnya asik dan lucu lantas kamu berpikir dia tidak bisa marah, asal kamu tau marah orang yang seperti itu sangat susah untuk bisa membuatnya kembali menjadi orang asik seperti yang kamu harapkan, dan seperti itulah kira-kira deskripsinya AKU.

"Hey kamu lagi apa?", " kabar kamu gimana?". Sontak mataku membelalak melihat pesan whatsapp yang masuk dan itu dari kamu, seperti tidak pernah terjadi apa-apa, entah itu kamu lupa atau sekedar iseng, ingin rasanya aku berteriak sekencang mungkin meluapkan kekesalan yang hampir seminggu ku pendam, ku biarkan pesan itu tanpa ku buka mungkin karena masih terbawa rasa kesal dengan kejadian beberapa hari lalu. "kenapa nggak pernah kasih kabar ke aku? Kamu lagi marah yah? Aku minta maaf kalo ada salah sama kamu." Pesan whatsapp lagi dari kamu, ku baca baik-baik pesan itu dan tanpa sadar air mata menetes tanpa permisi dulu kepada si empunya, ku beranikan diri membalas chat kamu "jujur aku jengkel, masih ingat chat terakhir kamu untuk aku? Aku bingung sama kamu, kenapa setiap ada masalah selalu aja kamu sangkut-pautin sama cowok lain, aku tidak serendah itu" , kupikir ini terlalu drama tetapi seperti itulah kenyataanya actually, i cry and i need anyone behind me and hold me.

Beberapa menit kemudian kamu membalas, tidak usah ku tulis di sini balasan chatmu itu, kupikir cukup menjadi rahasia saja bagiku, kata-kata yang sedikit menyakitkan dan mungkin bagi kamu itu hanya hal biasa, tidak apa-apa aku hanya ingin ber-positive thinking saja mungkin kamu lagi sibuk sampai salah mencet tombol keybord hp kamu.
tapi, se-naif itukah kamu? Kamukah itu? Bukannya aku mau sok menasehati, tapi umurmu itu sudah cukup dewasa di bandingkan aku untuk memahami masalah-masalah seperti ini, mungkin kamu berpikir aku ini seperti perempuan lain yang sekali di iming-imingi kata2 sayang itu langsung meleleh, aku beda loh dari mereka, mereka ya mereka, aku ya aku.

selama ini aku nyaman sama kamu karena sifat cerewetmu itu, tidak apa-apa seperti itu aku suka dan aku nyaman,  aku tidak berharap kamu menjadi orang lain. kamu itu tidak romantis dan tidak bisa romantis dan kupahami itu, jadi jangan menjadikan dirimu seperti mereka-mereka yang sok romantis. jujur saja sekarang tidak ada lagi rasa nyaman itu seperti hilang tanpa meninggalkan jejak apapun like a blackboard , di hapus oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab tanpa berpikir kalau tulisan di blackboard itu penting bagi sebagian orang yang ingin belajar, Seperti itulah kira-kira perumpamaannya.

Pernah terlintas di benakku, sempat ku salahkan jarak kupikir gara-gara dia sehingga kita seperti sekarang ini, saling diam dan tak ada yg mau mengalah untuk mengakui kesalahan masing-masing. Tapi kupikir lagi,  ternyata semua itu terjadi karena masing-masing dari kita masih ada yang malu atau tidak mau berbagi kisah.

jika di umpamakan, perasaanku itu layaknya jam rusak. aku berhenti di jam, menit, dan detik secara tiba-tiba. Aku minta maaf, mungkin kamu pantas untuk membenci atau bahkan melupakan, tapi tak apa itu hakmu. Sekedar menegaskan aku seperti ini bukan karena orang ketiga, this is what i feel deep in my heart. Katamu aku ini seorang yang bodoh dan aku membenarkan itu, aku memang bodoh bahkan bisa dikatakan sangat bodoh karena mungkin belum bisa memahami makna kata "saling mencintai" tetapi bagaimana cara untuk bisa saling menghargai setidaknya kupahami itu.  Kupikir kita belum sedekat yg kuharapkan, masih ada kesenjangan antara kamu dan aku.

Ada beberapa hal yang masih sepenuhnya belum  ku pahami dari sisimu dan itu membuatku selalu berpikir "mengapa harus selalu aku yang memulai, mengapa harus selalu aku saja yang menceritakan kisahku, kenapa tidak kamu saja dulu, setidaknya ada feedback dari kamu juga" haruskah seperti itu? Mungkin kamu akan berpikir bahwa ini hanya kesalah-pahaman belaka tapi menurutku bukan seperti itu, kamunya saja yang kurang peka, Ku harap jangan tanya lagi kenapa tiba-tiba seperti ini. Sekedar memberitahumu saja selama ini setiap pesan whatsapp yang masuk dari kamu itu selalu membuat jantungku berdegup kencang dan itu selalu ku katakan padamu, mungkin kamu berpikir kalau itu hanya sekedar bualanku saja tetapi seperti itulah yang sebenarnya kurasakan feels like iam gonna die in the same time.

Herannya beberapa hari belakangan ini perasaan itu perlahan mulai memudar,  Jujur aku kecewa bukan sama kamu tapi aku kecewa pada diriku sendiri yang secepat itu meminta pamit kepada rasa yang sudah kamu tanam dalah cintamu untukku.

Sebenarnya sudah ku usahakan untuk memperbaiki jam yang kamu rusakkan itu, tetapi untuk saat ini belum kutemukan cara yang tepat, mungkin lain kali akan ku coba bawa padamu lagi dan kuharap jangan bosan untuk tetap menunggu Dan jika masih belum bagus juga mungkin akan ku coba bawa kepada orang lain yang lebih paham cara memperbaiki. (Pyta)
Sepenggal Kita yang Terlupakan Sepenggal Kita yang Terlupakan Reviewed by sarlina ilina on November 07, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.