Marah Rindu Menampar Hati

[Dititik.com] Bahkan sampai saat ini kau masih menggetarkan jiwaku saat memikirkanmu, jika mawar begitu mencintai harumnya, mungkin kau begitu merajai hatiku. Tapi, adakah sebuah pilihan untuk tetap bertahan? Tidak, sebab kau tak menyuguhkan itu untukku, kau menganggapku tamu yang sekedar kau suguhkan kopi meski kau tahu aku tak menyukainya, tak ubahnya sebuah kebohongan yang senantiasa kau suguhkan meski kau tahu suatu saat itu akan melukai hatiku hingga kesisi yang terdalam.

Tak perlu kujelaskan seberapa dalam sisi itu atau seberapa pahit secangkir kopi itu sebab ia hanya akan menjadi sebuah lentera disiang hari untuk mu. sebab kau adalah pecandu kopi, yang meski dari segala sisinya ku jelaskan kau hanya akan mampu berkata manis dan memukau. Sedang aku hanya akan melihat semuanya yang kau anggap bagai lentera disiang hari. Kupikir itu cukup jelas untuk mendeskripsikan bagaimana rasa tentang secangkir kopi.

Masihkah juga aku mampu merinduimu? saat yang tersisa hanya sebuah kepingan yang coba ku perbaiki meski ada retak akibat ulahmu yg membiarkanku menjatuhkan hatiku untukmu.

Aku tak menyalahkanmu akan derita merindu, aku hanya tak mampu menunggu lebih lama akan ketidakpastian yang kau suguhkan hingga menjadikan waktuku setiap detiknya menjadi momen sebuah pembunuhan lambat. Aku hanya sedang bernegosiasi dengan waktu merencanakan bahwa suatu saat tak ingin lagi kujadikan dirimu sang pemilik hati ini tapi hanya sang tamu yang kusuguhkan secangkir kopi bukan HATI. (Pita Delima)
Marah Rindu Menampar Hati Marah Rindu Menampar Hati Reviewed by sarlina ilina on November 12, 2017 Rating: 5

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.