Bedah Buku 90 Hari Belajar Di Rumah Intaran

[Dititik.com] Beberapa hari yang lalu, di tempat yang agak tenang di tengah – tengah kota kendari ada sebuah tempat yang kerap disebut - sebut masyarakat sekitar asik untuk dijadikan tempat ngumpul – ngumpul dan berbincang berbagai hal sambil menikmati suasana malam dengan diterangi lampu – lampu kuning yang tak begitu terang.

Tempat tersebut dinamai dengan kata Kopi 41 sebuah nama yang bisa menjelaskan situasi didalamnya. Pada malam tersebut ada sebuah forum studi ilmiah mahasiswa arsitektur untuk wilayah Sulawesi tenggara yang menyebut diri mereka dengan BPR “Badan Pekerja Rayon” 13 yang tengah mengadakan sebuah kegiatan yang kemudian cukup menarik perhatian saya pada saat itu. 

Sebuah kegiatan yang menyuguhkan para penonton dan pembaca terkhusus mahasiswa – mahasiswa jurusan arsitektur di wilayah Sulawesi tenggara dengan sebuah Diskusi Ilmiah menarik segaligus bedah buku dan bedah film dokumenter yang tentu di dalamnya ada sebuah disiplin ilmu yang akan begitu bermanfaat bagi para partisipannya.

Rasa penasaran dan keingin tahuan saya akan kegitan tersebut akhirnya berbuah manis dengan bertemunya saya dengan salah seorang penaggung jawab dari kegiatan tersebut yang kuketahui bernama Darul Jalal Syafuddin yang biasa disapa darul, dia bercerita banyak perihal  kegiatan tersebut.

Ternyata pada kesempatan tersebut bukan hanya bertujuan untuk diskusi, bedah buku dan film akan tetapi sebagai bentuk pertanggung jawaban dari mahasiswa arsitektur yang telah pergi ke Rumah Intaran yang berlokasikan di Kota Bali. Berdasarkan keterangan Darul, “Rumah intaran sendiri merupakan sebuah wadah yang disediakan oleh Bapak Gede Krisna ‘selaku pemilik rumah dan Praktisi Arsitektur Indonesia’ bagi para mahasiswa(i) arsitektur untuk mempelajari tentang kesederhanaan dan juga cara menggunakan material – material alami.

Sehingga tidak perlu lagi menggunakan material – material industri yang nantinya bisa lebih kepada pemanfaatan kondisi alam dan juga untuk menambah wawasan mahasiswa arsitektur bagaimana mereka mampu untuk memanfaatkan potensi – potensi alam yang ada di Sulawesi tenggara yang nantinya akan dirubah untuk menjadi kontruksi bangunan”.

Dan kemudian yang membuat saya kembali takjub adalah para narasumber yang bernama Putra Wijaya dan Al Amin yang hadir pada kegitan tersebut, ternyata merupakan para mahasiswa yang telah belajar di rumah intaran yang siap menyalurkan ilmu yang telah mereka dapatkan kepada mahasiswa – mahasiswi arsitektur di sulawesi  tenggara.(Ida)

Bedah Buku 90 Hari Belajar Di Rumah Intaran Bedah Buku 90 Hari Belajar Di Rumah Intaran Reviewed by Admin Redaksi on November 03, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.