Aku dan Kamu Pernah Menjadi Kita

[Dititik.com] Pernah kuberada disituasi yang membuatku merasa bimbang dengan perasaanku sendiri, ku menyimpan sebuah perasaan yang tak seharusnya kusimpan terhadap seorang wanita yang telah menjadi milik sahabatku sendiri. Hari demi hari berada disampingnya mendengar setiap keluh kesahnya selama menjalin hubungan dengan sahabatku yang tak begitu peduli dan peka terhadap perasaan seorang perempuan.

Kini perasaan yang kupendam semakin menjadi – jadi, semakin ingin menjaganya, ingin memilikinya dan  ingin memberikan apa yang dia harapkan oleh sahabatku. Tapi kembali kuberfikir hal tersebut taklah benar, aku harus berbesar hati dan berusaha menepis semua itu dengan menganggap perasaan itu sebagai hal alami yang dirasakan seorang sahabat.

Semenjak saat itu otakku sibuk memikirkan hal yang membuatku begitu tertekan, entah apa yang ingin kulakukan. Haruskah aku mengorbankan perasaan sahabatku dan menjadi seorang penghianat? atau haruskah aku mengorbankan perasaanku dengan menguburnya dalam – dalam?. Pertanyaan demi pertanyaan terus bermunculan di dalam kepalaku hingga saat itu tiba.

Di saat kududuk termenung, dia datang menghampiriku dengan mata sembapnya sambil teisak – isak sembari berkata, “aku ngak sanggup lagi seperti ini, dia ngak pernah sama sekali menganggapku ada. Aku ini pacarnya tapi kamu yang selalu ada buat aku, emang dia ngak malu??” Dia terus – terusan mengoceh tapi tak sepatah – katapun yang terucap dibibirku, aku hanya berusaha membuatnya tenang dengan menepuk - nepuk pundaknya dan kemudian dia berhenti sejenak lalu dia berbisik dengan pelan, “Apa kamu mau jadi pacarku?” sebuah kalimat yang tak begitu panjang tapi memiliki arti yang begitu luas sontak membuatku kaget, dengan sedikit canggung kubertanya kepadanya, “apa kamu yakin dengan pertanyaanmu tadi? Mungkin kamu lagi emosi jadi asal nyerocos”. Dia kembali menjelaskan keseriusannya hingga pada akhirnya kami resmi pacaran.

Kata kamu dan aku kini telah menjadi kita, hubungan kami sudah berjalan cukup lama walau menghadapi banyak rintangan yang disebabkan oleh diriku yang dimusuhi dan dicap sebagai seorang sahabat yang penghianat.
Inginku berkata kepada mereka bahwa aku tidak mungkin masuk kalau tidak ada yang membukakan pintu dan seseorang juga tak akan keluar kalau pintu itu tertutup rapi. Tapi semua itu akan percuma saja, lebih baik kudiam saja dan menjalani apa yang sudah terjadi.

Lambat laun persoalan kembali bermunculan dalam hubungan kami tapi kuberusaha terus mengalah dan mencoba bicara baik - baik, karena aku tak ingin kehilangannya. Tapi apalah dayaku takdir berkata lain, dia pun akhirnya pergi meninggalkanku. Aku sadar semua itu karena keegoisanku yang terus mengekangnya, memaksakannya menuruti semua hal yang kumau hingga kulupa bahwa dia juga punya hal lainnya yang ingin dia lakukan, aku terbutakan dengan kata sayang dan cinta, aku terus berusaha memperlakukannya tidak seperti sahabatku tapi ternyata semua itu salah. Kini hati dan raganya tak lagi menjadi milikku, hanya sebuah kenangan indah yang tersisa dan sebuah harapan yang ingin kembali bersamanya.

Air mataku pun tak dapat kubendung lagi, aku terisak – isak sambil menarik tisu satu demi satu, kuingin menjelaskan semua yang terjadi kepada perempuan tersebut tentang apa yang sebenarnya terjadi. Tapi apalah dayaku sebagai seorang penonton yang hanya bisa mengambil sebuah pelajaran dari film tersebut. (Idha)
Aku dan Kamu Pernah Menjadi Kita Aku dan Kamu Pernah Menjadi Kita Reviewed by Ida wahyuni on November 06, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.